TBC Kelenjar : Limfadenitis Tubercolosis Caseosa & Pengalaman Operasi Pertama Kali

Hai teman-teman, aku disini mau berbagi cerita dan sedikit pengalaman aku dari mulai gejala, diagnosis, hingga diputuskan positif menderita TBC kelenjar. Umurku saat ini 20 tahun, dari kebanyakan artikel yang aku baca, TBC kelenjar ini memang banyak menyerang wanita pada umur 20-40 tahun. Awal mulanya, aku tidak merasakan ada benjolan, namun sekitar sebulan belakangan benjolan itu ada dengan ukuran sebesar kelereng dan makin membesar. Letak benjolan tersebut ada di bawah daun telinga tepat di belakang rahang. Gejala yang aku alami alhamdulillah cukup ringan dan tidak terlalu sering juga, hanya beberapa kali saat tubuh kurang fit, seperti pusing kepala sebelah, mudah lelah, terkadang benjolan tersebut terasa nyeri, dan demam ringan.

Terhitung dari bulan November hingga pertengahan Desember, awalnya aku bersikap biasa saja, tidak ingin memeriksakan keadaanku lebih lanjut ke dokter, karena aku pikir benjolan tersebut akan menghilang dan kempis dengan sendirinya. Namun ternyata tidak, benjolan tersebut justru semakin membesar dan aku merasakan beberapa gejala yang aku sebutkan di atas. Akhirnya aku memberanikan diri memeriksakan diri ke dokter umum, diagnosa dokter tersebut aku menderita pembengkakan kelenjar getah bening. Aku tidak sempat diberikan obat oleh dokter umum tersebut, karena aku langsung dirujuk ke spesialis bedah. Setelah bertemu dokter spesialis bedah, hasil diagnosisnya berbeda, aku didiagnosis tumor colli dan diminta untuk menjalani USG.

Dokter bedah tersebut sempat memberikanku obat antibiotik, beliau hanya ingin melihat, apakah antibiotik tersebut dapat mengempiskan benjolan tersebut atau tidak, dan ternyata tidak. Hingga aku kembali membawa hasil USG, dokter tersebut belum bisa memastikan, apakah itu hanya pembekakan atau tumor. Aku dirujuk kembali ke dokter bedah spesialis kanker dan tumor, dokter tersebut yang akan menjelaskan keseluruhan dan mengambil keputusan untuk tindakan selanjutnya.

Pada pertemuan pertama dengan dokter spesialis tumor tersebut, aku didiagnosis bahwa ini adalah TBC kelenjar, tapi kita butuh memastikan lebih lanjut dengan biopsi, mengambil seluruh jaringan dari benjolan tersebut dengan cara pembedahan. Setelah mengurus berkas untuk tindakan operasi, aku harus menjalani beberapa pemeriksaan seperti rontgen, cek darah, dan anastesi. Alhamdulillah semua hasilnya bagus. Lalu, aku kembali ke dokter tersebut untuk mengantar seluruh hasil pemeriksaan, hingga akhirnya menetapkan tanggal operasinya.

Dokter memutuskan aku operasi pada tanggal 6 Januari 2017, jaraknya hanya satu hari dari pemeriksaan. Untuk seseorang seperti aku yang diinfus aja belum pernah, I have no clue, aku bener-bener ngga tau harus gimana dan mau apa. Pada tanggal 5 Januari itu aku bener-bener ngga ngapa-ngapain, ngga tau harus apa, lemes, males. Tapi alhamdulillah, orang-orang disekitar aku selalu kasih aku semangat, dan aku juga ngga pernah putus doa.

Aku masuk ruang perawatan jam 7 pagi, mulai dipasang infus jam 8.30 dan suntik alergi jam 9.00 (Fyi, suntik alergi sakit banget, aku sampe gigit baju sendiri. Rasanya seperti digigit semut, lalu semut itu nyebar. 11-12 dengan kesemutan, tapi sakit.) dan pada saat itu aku sudah dalam keadaan berpuasa, terakhir makan jam 7, itupun hanya setengah botol air mineral & 1 bungkus roti coklat. Jadwal operasi yang seharusnya jam 14.00 meleset, aku sudah ada di ruang tunggu operasi jam 15.30 dengan baju operasi tentunya. lalu jam 16.00 (lewat berapa menit aku lupa) aku masuk ruang operasi, pertama kali yang aku inget, ruangan tersebut bau, dingin menusuk. Setelah masuk ruang operasi aku bertemu dengan beberapa dokter yang sudah berjubah tentu saja, aku diajak ngobrol sambil dipasang alat-alat disekujur tubuhku. Hingga salah seorang dokter menyuruhku untuk tidur, lalu aku langsung blank, ngga tau apa-apa lagi, semuanya gelap.

Operasi tersebut tidak berlangsung lama, ibuku bilang aku jam 17.30 sudah berada di ruang perawatan. Aku ingat, setelah selesai operasi ada perawat yang membangunkan aku, memanggil namaku beberapa kali untuk memastikan aku tersadar. Fyi, aku dibius total dan setelah sadar (walaupun belum pulih benar) obat bius tersebut mengakibatkan mual yang luar biasa. Aku tidak benar-benar ingat dimasa pemulihan karena aku belum sepenuhnya sadar. Yang aku ingat, aku mual, aku beberapa kali manggil suster perawat karena sesak nafas dan dipasangkan oksigen, lalu aku dibangunkan untuk pindah ke ruang perawatan. Fyi lagi, aku pasien terakhir, sadar terlama di ruang pemulihan, hahaha.

Aku pindah ke ruang perawatan sekitar jam 09.30 itu pun aku belum boleh makan, sudah tidak berasa lagi lapar walaupun aku dalam keadaan berpuasa, dan suster tidak mengizinkan makan setelah operasi sebelum buang angin, aku pun dalam keadaan setengah sadar belum tau apakah sudah buang angin atau belum, hahaha. Keesokan paginya aku bertemu dokter jaga, dokter tersebut bilang kalau aku sudah boleh langsung pulang. Setelah diperiksa kondisiku bagus, tekanan darahku normal. Hanya saja masih nyeri, aku tidak bisa banyak bicara dan yes, aku tidak bisa menganga terlalu besar. Bahkan untuk minum pun aku membutuhkan bantuan sedotan. Selama 3 hari aku makan bubur karena memang untuk buka mulut pun susah, terlebih untuk mengunyah makanan yang terlalu kasar.

Terhitung dari selesai operasi sampai sekitar seminggu, aku hanya dikasih obat antibiotik, penghilang nyeri, dan anti mual. Hingga seminggu kemudian hasil lab dari biopsi aku keluar dan pada akhirnya aku diputuskan menderita TBC kelenjar. Dokter bilang ini disebabkan oleh bakteri, disaat tubuh kita drop, kemudian bakteri tersebut masuk. Dan untuk pantangan makanan, aku sudah tanya ke dokter bahwa tidak ada pantangan apapun, aku disuruh makan dan ngemil yang banyak. Tapi, yang aku makan harus makanan rumah, tidak boleh sering makan diluar, junkfood apalagi, no. Harus banyak-banyak istirahat, tubuh diusahakan harus selalu fit. Aku harus menjalani pengobatan rutin selama 9 bulan, dimana aku dikasih obat anti TBC dan itu tidak boleh putus, kalau putus, harus mengulang dan ditambah injeksi selama 54x. Serem kan? Dokter bilang minum obat rutin itu menuntut tanggung jawab besar, kita ngga boleh bohong sama diri kita sendiri dan bener-bener harus disiplin.

Alhamdulillah saat ini aku sudah berjalan 2 minggu pengobatan dan lancar. Jadi, untuk kalian yang saat ini mengalami hal yang sama, sudah divonis ataupun belum, memiliki ketakutan sama dengan aku karena belum pernah operasi. Ngga perlu takut, ngga perlu gelisah, banyak berdoa dan selalu positif thinking. Itu semua ngga semenakutkan apa yang kalian pikir, ngga sesakit dan se-seram apa yang kalian bayang-bayangin. Intinya selalu semangat, karena penyakit bisa dilawan oleh semangat dari diri sendiri, selalu positif thinking pasti sembuh dan yang pasti jangan lupa berdoa, minta sama Allah, kita milik Allah, Allah yang kasih kita penyakit, dan Allah juga yang sembuhin. Semangat :D

Oh iya, note sedikit, aku ngga ada perubahan berat badan ataupun pola makan. Pola makan aku normal dan berat badan aku ngga berkurang. Dokter bilang kondisiku stabil, jadi ngga ada yang serius. Alhamdulillah.

Selalu syukuri apa yang kamu punya dan alami saat ini ya temen-temen. Semoga ini dapat membantu temen-temen yang punya pertanyaan tentang TBC kelenjar dan gambaran untuk yang belum sama sekali masuk ruangan operasi yang bahkan diinfus aja belum pernah. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Comments

Popular Posts