Berpasangan..?
Apa yang terlintas dipikiran kalian tentang berpasangan?
Sudah pasti tentang seorang wanita dan seorang pria yang menjalin hubungan baik, bukan?
Mempunyai pasangan memang kerap kali menjadi impian banyak orang, mungkin termasuk aku. Tapi itu dulu, kini impian itu lama-kelamaan menghilang, keinginanku untuk memiliki seorang pasangan sudah bukan lagi menjadi prioritas. Jika dibilang apakah aku trauma dengan masa lalu, mungkin benar. Sudah lelah memulai perkenalan baru, mengukir kenangan lagi, dan jatuh lagi.
Memutuskan untuk tetap sendiri memang tidak mudah, tapi ini keputusan yang telah aku buat untuk diriku sendiri. Ntah sampai kapan ini akan berlanjut, biarlah. Walaupun banyak sekali orang-orang disekitarku yang mengingatkan bahwa aku terlalu asik dengan duniaku sendiri, dunia yang kubuat sendiri tanpa sepengetahuan mereka. Sempat ada yang bilang padaku untuk jangan lelah bertemu dengan orang baru dan berpikir bahwa pada akhirnya kelak aku akan berpasangan seperti mereka pada umumnya. Aku memang lelah memulai perkenalan baru, namun, jika untuk bertemu orang baru, akan aku persilakan mereka.
Akhir-akhir ini aku memang terkesan dingin, aku bahkan dengan sengaja menjaga jarak dan menghindar. Kenyataan ternyata memang semelelahkan itu. Membuat khawatir beberapa orang karena kondisiku bahkan tidak lagi aku pedulikan. Mereka benar peduli atau hanya sekedar basa-basi. Terserah.
Tuhan memang menciptakan kita berpasangan, aku tidak menyangkal hal itu. Tapi tujuan hidup seseorang tidak melulu untuk mencari pasangan. Semakin bertambah umurku malah keinginanku untuk itu kian memudar, prioritasku terus berganti. Dan untuk pasangan aku pasrah, karena itu telah menjadi prioritas ntah yang ke berapa aku pun sudah tidak terlalu memikirkannya.
Terkesan dingin dan menutup diri?
Memang pada dasarnya aku bukanlah orang yang gampang dekat dan kenal dengan seseorang.
Delapan tahun.
Ya, itu waktu yang aku habiskan untuk berkenalan dengan lawan jenis. Mengenal rasa menyukai sampai menyayangi seseorang. Aku juga sempat merasakan cinta monyet seperti remaja pada umumnya. Hingga terakhir aku baru merasakan sekali bahwa aku berada di tahap menyayangi seseorang dan tidak ingin kehilangannya. Namun, pada akhirnya aku tetap kehilangannya. Miris? Tidak. Aku tau itu bukan akhir dari perjalanan hidupku untuk menyayangi seseorang. Hanya saja semenjak hari itu aku menjadi lebih pemilih, aku lebih egois untuk membagi rasa sayangku ke orang lain, ke yang lebih pantas untuk aku bagi.
Aku dibilang sombong, cuek, dingin, menutup diri? Silakan, aku tidak bisa melarang seseorang untuk memberikan penilaian terhadap diriku. Aku juga tidak peduli. Jika mereka yang sudah mengenalku, tau aku orang seperti apa, mereka tidak akan terpengaruh dengan hal itu. Dan jika aku dibilang pemilih, itu kenyataan, aku berhak memilih orang-orang seperti apa yang aku butuhkan dalam hidup, karena aku tau, mereka pasti akan mempengaruhi kehidupanku. Aku memang tidak punya hak untuk melarang, tapi aku punya hak untuk menolak dan mengeluarkan suaraku sendiri. Ku harap kalian paham. Bahwa aku juga punya mulut, bisa berbicara seperti kalian. Aku juga punya hati dan aku bisa merasakan.

Comments
Post a Comment